Injil dan Budaya Lokal: Cara Mahasiswa STTIS Integrasikan Nilai Mapalus dalam Pelayanan

Injil dan Budaya Lokal: Cara Mahasiswa STTIS Integrasikan Nilai Mapalus dalam Pelayanan

Pertemuan antara iman dan tradisi selalu menjadi diskursus yang menarik dalam dunia teologi kontemporer. Di Sulawesi Utara, khususnya di lingkungan Mahasiswa STTIS (Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Surakarta atau institusi teologi terkait konteks lokal), upaya untuk menyelaraskan pesan suci Injil dan Budaya Lokal menjadi fokus utama dalam mempersiapkan hamba Tuhan yang relevan. Salah satu kearifan lokal yang paling menonjol dan menjadi napas kehidupan masyarakat adalah tradisi Mapalus. Tradisi ini bukan sekadar gotong royong biasa, melainkan sebuah sistem nilai yang mengandung etos kerja, ketulusan, dan persaudaraan yang sangat erat.

Bagi seorang calon penginjil, memahami konteks budaya tempat mereka melayani adalah sebuah keharusan. Tanpa pemahaman budaya yang baik, pesan Injil akan terasa asing dan sulit diterima oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu, mahasiswa teologi didorong untuk menggali lebih dalam bagaimana nilai Mapalus dapat menjadi jembatan yang efektif untuk menyampaikan kabar baik tanpa menghilangkan identitas budaya yang telah berakar selama berabad-abad.

Filosofi Mapalus dalam Perspektif Alkitabiah

Mapalus berasal dari kata Ma yang berarti saling, dan Palus yang berarti mencurahkan atau membagikan kekuatan. Secara esensial, Mapalus adalah tindakan timbal balik dalam membantu sesama, baik dalam pertanian, pembangunan rumah, maupun duka cita. Mahasiswa STTIS melihat bahwa prinsip ini sangat selaras dengan ajaran kasih dalam kekristenan. Dalam Alkitab, konsep saling menanggung beban adalah perwujudan nyata dari hukum kasih yang diajarkan oleh Kristus.

Integrasi antara Injil dan Budaya Lokal terjadi ketika mahasiswa mampu menunjukkan bahwa menjadi seorang Kristen yang taat tidak berarti harus meninggalkan adat istiadat yang baik. Sebaliknya, iman Kristen seharusnya memperkuat nilai-nilai luhur seperti kejujuran dan kerelaan berkorban yang ada dalam Mapalus. Dengan menggunakan kacamata teologis, tradisi ini dipandang sebagai anugerah umum ( common grace ) yang diberikan Tuhan kepada suku bangsa untuk menjaga harmoni sosial.

Strategi Pelayanan Mahasiswa di Tengah Masyarakat

Dalam praktik lapangan, para mahasiswa tidak hanya datang membawa Alkitab, tetapi juga membawa semangat untuk bekerja bersama rakyat. Mereka terlibat langsung dalam kegiatan kemasyarakatan yang menggunakan sistem Mapalus. Misalnya, ketika ada warga yang membutuhkan bantuan untuk memanen hasil bumi, mahasiswa hadir bukan sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari anggota komunitas yang saling membantu.

Melalui tindakan nyata ini, pesan Injil dan Budaya Lokal tersampaikan secara non-verbal. Masyarakat akan melihat bahwa para calon pelayan Tuhan ini memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Pelayanan yang integratif seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan dengan metode penginjilan yang bersifat menghakimi atau eksklusif. Mahasiswa belajar bahwa mimbar yang paling efektif adalah kehidupan sehari-hari di mana mereka bisa mempraktikkan nilai Mapalus secara konsisten.

Menghadapi Tantangan Modernitas dan Individualisme

Tantangan terbesar dalam melestarikan budaya lokal di era digital adalah meningkatnya sikap individualisme. Di sinilah peran Mahasiswa STTIS menjadi sangat krusial sebagai agen perubahan. Mereka bertugas untuk menghidupkan kembali semangat kolektivitas di tengah generasi muda yang mulai terpengaruh oleh gaya hidup modern yang serba mandiri dan kompetitif.

Dengan mengintegrasikan nilai-nilai iman ke dalam struktur sosial, mahasiswa berusaha membuktikan bahwa Mapalus tetap relevan di abad ke-21. Mereka menggunakan media sosial dan teknologi untuk mengoordinasikan kegiatan sosial berbasis budaya. Hal ini menunjukkan bahwa Injil dan Budaya Lokal bisa bersinergi dengan kemajuan zaman. Kreativitas dalam pelayanan ini menjadi kunci agar gereja tetap menjadi pusat solusi bagi permasalahan sosial di daerah.

Pendidikan Teologi yang Berbasis Kontekstual

Di kampus, kurikulum pendidikan dirancang untuk memperkuat analisis kontekstual mahasiswa. Mereka diajarkan untuk melakukan eksegesis (penafsiran) terhadap teks Alkitab sekaligus melakukan “eksegesis” terhadap realitas budaya sekitarnya. Fokusnya adalah mencari titik temu di mana nilai Mapalus dapat digunakan sebagai ilustrasi teologis yang kuat.

Sebagai contoh, konsep “tubuh Kristus” dalam teologi Paulus seringkali dijelaskan melalui analogi Mapalus, di mana setiap anggota memiliki peran yang berbeda namun bekerja untuk satu tujuan mulia. Pemahaman ini membuat doktrin gereja yang rumit menjadi lebih mudah dicerna oleh masyarakat lokal. Mahasiswa STTIS dilatih untuk menjadi jembatan antara dunia akademik teologi yang kaku dengan realitas lapangan yang dinamis dan penuh warna budaya.

Dampak Positif Integrasi Budaya dalam Pelayanan

Hasil dari pendekatan yang menghargai budaya ini sangat nyata. Gereja-gereja di pedesaan menjadi lebih hidup karena masyarakat merasa bahwa iman mereka tidak mencerabut mereka dari akar tradisi nenek moyang. Kehadiran mahasiswa yang mengerti nilai Mapalus menciptakan rasa saling percaya ( trust ) yang kuat antara pemimpin agama dan jemaat.

Selain itu, integrasi Injil dan Budaya Lokal juga membantu dalam penyelesaian konflik sosial. Semangat Mapalus yang mengedepankan musyawarah dan mufakat menjadi alat rekonsiliasi yang ampuh jika terjadi perselisihan di tengah jemaat. Mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang menggunakan pendekatan budaya untuk membawa kedamaian, sesuai dengan esensi Injil sebagai pesan perdamaian.

Kepemimpinan Pelayan yang Melayani (Servant Leadership)

Prinsip Mapalus secara tidak langsung membentuk karakter kepemimpinan para mahasiswa. Seorang pemimpin dalam sistem Mapalus bukanlah seorang bos yang memerintah, melainkan seorang penggerak yang berdiri di barisan depan untuk bekerja. Model kepemimpinan ini sangat sesuai dengan prinsip Servant Leadership yang diajarkan dalam pendidikan teologi di STTIS.

Dengan menghidupi nilai Mapalus, mahasiswa belajar untuk merendahkan hati dan menempatkan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi. Karakter seperti inilah yang dibutuhkan oleh gereja masa depan. Pemimpin yang tidak hanya pandai berkhotbah di atas podium, tetapi juga mahir merangkul tangan masyarakat dalam lumpur sawah atau keringat pembangunan. Inilah wujud nyata dari teologi yang membumi.

Kesimpulan

Sinergi antara Injil dan Budaya Lokal merupakan kunci keberhasilan pelayanan di tanah air yang kaya akan tradisi. Apa yang dilakukan oleh Mahasiswa STTIS dengan mengadopsi nilai Mapalus adalah sebuah langkah cerdas untuk memastikan bahwa berita keselamatan tetap memiliki daya pikat dan daya ubah bagi masyarakat lokal. Budaya bukanlah musuh iman, melainkan sarana yang disediakan Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Melalui pendekatan yang inklusif dan apresiatif, para calon pelayan Tuhan ini telah membuktikan bahwa Injil mampu bertransformasi menjadi kekuatan yang memberdayakan budaya tanpa harus merusaknya. Semangat Mapalus yang terus dijaga akan memastikan bahwa kasih Kristus tidak hanya berhenti sebagai teori, tetapi menjadi tindakan nyata yang menghidupkan dan mempersatukan. Mari terus mendukung upaya-upaya kontekstualisasi ini demi terciptanya masyarakat yang beriman teguh namun tetap bangga akan identitas budayanya.

Baca Juga: Pembelajaran Interaktif Etika Sosial: Pendekatan Praktis untuk Tantangan Masyarakat Modern

admin
https://sttisttohwsulut.ac.id