Ilmu Politik Praktis: Memahami Kebijakan Publik dari Perspektif Teologi

Ilmu Politik Praktis: Memahami Kebijakan Publik dari Perspektif Teologi

Apakah teologi dan politik praktis berada di kutub yang berlawanan? Selama ini, banyak yang memandang ranah spiritualitas dan kekuasaan sebagai dua dunia yang tak boleh bersentuhan. Politik sering dianggap ‘kotor’ dan ‘pragmatis’, sementara teologi diyakini hanya berurusan dengan hal-hal surgawi. Namun, pandangan dikotomis ini mulai usang. Di tengah kompleksitas isu sosial dan tata kelola negara, peran prinsip-prinsip etis dan moral yang berakar pada keyakinan agama (teologi) menjadi semakin penting dalam membentuk kebijakan publik yang adil dan inklusif.

Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana perspektif teologis dapat memberikan kerangka kerja yang kuat untuk menganalisis dan memengaruhi ilmu politik praktis, khususnya dalam konteks perumusan kebijakan publik. Kami akan menggunakan pengalaman berharga dari Workshop STT Hikmat Wahyu sebagai studi kasus nyata, yang menunjukkan upaya institusi keagamaan untuk menjembatani jurang antara iman dan aksi sosial-politik.


## Teologi Publik vs. Politik Praktis: Meluruskan Pemahaman

Untuk memahami keterlibatan ini, kita perlu membedakan dua konsep penting:

Kebijakan publik (misalnya, mengenai kesehatan, pendidikan, lingkungan, atau hak asasi manusia) adalah titik temu krusial antara politik dan teologi publik. Kebijakan ini menyentuh kehidupan nyata warga negara. Di sinilah teologi tidak lagi menjadi “privat” di dalam tembok gereja, melainkan menjadi suara kenabian yang menuntut pertanggungjawaban moral dari negara.


## Pilar Teologis untuk Kebijakan yang Berkeadilan

Apa landasan teologis yang dapat diterjemahkan menjadi panduan praktis dalam kebijakan publik? Beberapa konsep kunci meliputi:


## Studi Kasus: Inisiatif Politik Praktis STT Hikmat Wahyu

Sekolah Tinggi Teologi (STT) Hikmat Wahyu menyadari urgensi ini dan mengambil langkah proaktif dengan menyelenggarakan Workshop Ilmu Politik Praktis. Workshop ini bertujuan untuk membekali para mahasiswa teologi, rohaniwan, dan aktivis gereja dengan pemahaman yang mendalam mengenai mekanisme kebijakan publik dan cara memengaruhi prosesnya secara etis dan strategis.

Tiga Fokus Utama Workshop:

Dampak dan Relevansi Praktis:

Workshop STT Hikmat Wahyu menjadi contoh nyata bagaimana institusi teologis dapat melahirkan agen perubahan yang “melek politik” tanpa terjebak dalam politik partisan. Lulusan dan peserta dapat:


## Tantangan dan Urgensi Keterlibatan Teologis

Keterlibatan teologi dalam politik praktis—melalui kebijakan publik—bukannya tanpa tantangan. Kritik sering muncul terkait bahaya fundamentalisme, teokrasi, atau instrumentalisasi agama untuk kepentingan politik sesaat.

Oleh karena itu, pendekatan teologi publik harus selalu menekankan:

Dalam konteks Indonesia, di mana agama memiliki pengaruh besar pada budaya dan sosial, urgensi untuk memperkuat etika politik melalui lensa teologi publik semakin tinggi. Kebijakan publik yang dihasilkan perlu mencerminkan cita-cita pendiri bangsa akan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang notabene selaras dengan prinsip-prinsip teologis tentang bonum commune.


## Kesimpulan: Arah Baru Keterlibatan Umat Beriman

Ilmu politik praktis yang berfokus pada kebijakan publik adalah medan pelayanan yang sah dan penting bagi umat beriman. Kisah sukses Workshop STT Hikmat Wahyu membuktikan bahwa pendidikan teologi dapat dan harus mencakup dimensi politik-etis ini. Ini bukan tentang mendirikan partai agama atau memaksakan dogma, melainkan tentang menanamkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan ke dalam urat nadi tata kelola negara.

Dengan membekali diri melalui pendidikan politik yang berbasis teologi publik, umat beriman dapat bertransformasi dari sekadar objek kebijakan menjadi subjek aktif yang mengubah kebijakan demi terwujudnya masyarakat yang lebih adil dan beradab. Mereka dapat menjadi ‘garam’ dan ‘terang’ yang memengaruhi dapur perumusan kebijakan, memastikan bahwa setiap keputusan publik benar-benar memuliakan martabat manusia dan memperjuangkan kesejahteraan bersama.


Tindakan Lanjut: Membangun Jembatan Aksi

Bagaimana komunitas atau institusi Anda dapat mulai menjembatani teologi dan kebijakan publik?

Apakah Anda ingin mempelajari lebih lanjut mengenai metodologi spesifik yang digunakan STT Hikmat Wahyu dalam menganalisis kebijakan publik?

Baca Juga: Perempuan dalam Agama: Wacana Kesetaraan Sejati dan Pemberdayaan Insani

admin
https://sttisttohwsulut.ac.id