Di jantung pendidikan teologi yang berintegritas, terdapat satu prinsip utama: Ad Fontes, kembali kepada sumber aslinya. Bagi Sekolah Tinggi Teologi (STT) Istto Hikmat Wahyu, prinsip ini bukan hanya slogan akademis, melainkan fondasi kurikulum. Mahasiswa di institusi ini diwajibkan untuk menguasai Bahasa Ibrani Alkitabiah dan Bahasa Yunani Koine—dua bahasa kuno yang menjadi wadah orisinal bagi pewahyuan Kitab Suci.
Kewajiban ini mencerminkan komitmen STT Istto Hikmat Wahyu untuk menghasilkan teolog, pendeta, dan pemimpin gereja yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki kedalaman hermeneutika dan eksegesis yang tak tertandingi. Penguasaan bahasa biblika berfungsi sebagai kunci yang membuka gerbang pemahaman otentik, melampaui keterbatasan yang melekat pada setiap bentuk terjemahan. Berikut adalah uraian mendalam mengapa tuntutan ini sangat krusial bagi perjalanan akademis dan spiritual seorang mahasiswa teologi.
I. Memahami Inti Firman Tuhan: Melampaui Batasan Terjemahan
Salah satu alasan paling mendasar dari penekanan pada bahasa asli adalah pengakuan bahwa terjemahan, seakurat apapun, selalu merupakan interpretasi. Setiap bahasa memiliki kosakata, nuansa, dan konteks budaya yang tidak dapat dipindahkan secara sempurna ke bahasa lain.
1. Menggali Kekayaan Makna Kata (Semantic Range)
Bahasa Ibrani dan Yunani seringkali memiliki satu kata yang mengandung spektrum makna jauh lebih luas daripada padanannya dalam bahasa modern.
- Contoh Ibrani: Hesed. Kata ini sering diterjemahkan sebagai “kasih setia” (seperti dalam Mazmur). Namun, hesed sebenarnya merangkum konsep kesetiaan perjanjian, belas kasihan, loyalitas, dan tindakan kasih yang dilakukan dalam kerangka relasi kovenan. Seorang mahasiswa yang hanya membaca terjemahan mungkin hanya menangkap satu dimensi—kasih—sementara dimensi perjanjian yang lebih kaya hilang. Memahami hesed dari akarnya membantu menafsirkan seluruh narasi Perjanjian Lama sebagai kisah tentang janji yang dipelihara.
- Contoh Yunani: Dikaiosune. Kata yang diterjemahkan sebagai “kebenaran” ini dalam konteks Paulus tidak sekadar berarti kejujuran moral, tetapi lebih mengacu pada status yang benar di hadapan Allah (rectitude), tindakan penyelamatan Allah, atau bahkan atribut Allah. Kejelasan semantik ini sangat penting untuk memahami doktrin sentral seperti justifikasi (pembenaran) oleh iman.
2. Memahami Implikasi Waktu dan Tindakan (Tense dan Aspect)
Terutama dalam Bahasa Yunani Koine, bentuk kata kerja (verb) sangatlah informatif. Bentuk (aspect) sebuah kata kerja menunjukkan jenis tindakan—apakah tindakan itu tunggal dan instan (aorist), berulang dan berkelanjutan (present), atau telah selesai dengan hasil yang berkelanjutan (perfect).
- Contoh Yunani: Yohanes 3:16. Ketika teks tersebut mengatakan “setiap orang yang percaya kepada-Nya…”, kata kerja “percaya” dalam bahasa Yunani ditulis dalam present active participle. Ini menyiratkan sebuah tindakan yang berkelanjutan dan terus-menerus. Mahasiswa yang menguasai bahasa ini tahu bahwa iman yang menyelamatkan bukanlah momen tunggal, melainkan suatu sikap dan proses hidup yang berkelanjutan. Detail tata bahasa ini memperkuat pemahaman teologis tentang sifat iman sejati.
3. Kritik Teks sebagai Tanggung Jawab Akademis
Mahasiswa STT Istto Hikmat Wahyu diajarkan dasar-dasar kritik teks. Meskipun Alkitab terjemahan didasarkan pada edisi kritis terbaik, seorang teolog harus memahami mengapa edisi tersebut memilih satu bacaan di atas yang lain. Mereka belajar membandingkan varian tekstual dalam manuskrip Yunani (codex seperti Sinaiticus, Vaticanus) dan Ibrani (gulungan Laut Mati). Kemampuan ini memastikan bahwa pelayanan mereka didasarkan pada teks yang paling mendekati orisinal.
II. Mendalami Konteks Budaya dan Sejarah: Bahasa sebagai Jendela Pemikiran
Bahasa tidak pernah terlepas dari budaya dan sejarah di mana ia lahir. Bahasa Ibrani dan Yunani adalah kunci untuk membuka pikiran penulis Alkitab dan audiens pertama mereka.
1. Mengapresiasi Kerangka Berpikir Ibrani
Struktur dan kosakata Bahasa Ibrani mencerminkan cara pandang dunia orang Semit, yang berbeda dengan pemikiran Barat modern.
- Pemikiran Holistik: Pemikiran Ibrani cenderung holistik. Konsep seperti tubuh (basar) dan jiwa (nefesh) seringkali tidak dipahami sebagai entitas terpisah seperti dalam dualisme Platonis, tetapi sebagai totalitas dari keberadaan seseorang. Memahami kosakata Ibrani mencegah mahasiswa memaksakan dualisme Yunani ke dalam Perjanjian Lama.
- Waktu sebagai Peristiwa: Dalam Bahasa Ibrani, waktu lebih sering dipahami dalam kaitannya dengan peristiwa dan tindakan, bukan sebagai garis linear abstrak. Fokus pada narasi dan tindakan Allah (redemptive history) lebih dominan daripada konsep filosofis abstrak tentang waktu.
2. Memahami Latar Belakang Helenistik
Perjanjian Baru ditulis dalam Bahasa Yunani Koine, bahasa yang dipengaruhi kuat oleh pemikiran Helenistik pasca-Aleksander Agung.
- Jembatan Budaya: Koine berfungsi sebagai jembatan yang mentransfer konsep-konsep Yudaisme ke dalam bahasa dunia yang lebih luas. Mahasiswa belajar bagaimana para penulis Perjanjian Baru mengambil kata-kata Yunani sehari-hari dan memberinya makna teologis baru, misalnya kata Kyrios (Tuan) yang digunakan untuk Yesus, sebuah gelar yang dalam konteks Septuaginta (terjemahan PL ke Yunani) digunakan untuk YHWH.
- Pengaruh Filsafat: Pemahaman tentang Koine membantu mengidentifikasi di mana penulis (terutama Paulus dan Yohanes) berinteraksi dengan filsafat populer saat itu. Ini krusial untuk menafsirkan polemik mereka terhadap ajaran sesat tertentu di Efesus atau Kolose, yang sering berakar pada sinkretisme Yunani-Timur.
3. Mengidentifikasi Nuansa Sastra dan Retorika
Penguasaan bahasa memungkinkan mahasiswa mengidentifikasi pola-pola sastra kuno.
- Kiasmus Ibrani: Di PL, terutama dalam narasi dan puisi, sering ditemukan struktur chiasmus (pola A-B-B-A) yang berfungsi menyoroti ide sentral (titik B-B). Mengenali pola ini (yang tidak terlihat dalam terjemahan linier) membantu menemukan penekanan teologis utama dari sebuah perikop.
- Retorika Yunani: Para penulis PB, seperti Paulus, sering menggunakan teknik retorika Yunani untuk menyusun argumennya (misalnya, diatribe di Roma). Memahami tata bahasa dan retorika Yunani membantu mahasiswa melihat bagaimana Paulus membangun logika teologisnya dengan presisi.
III. Menjadi Penafsir yang Bertanggung Jawab: Fondasi Eksegesis Ilmiah
Di STT Istto Hikmat Wahyu, tujuannya adalah melahirkan ekseget (orang yang menarik makna keluar dari teks), bukan eiseget (orang yang memasukkan ide sendiri ke dalam teks). Kemampuan ini bergantung sepenuhnya pada bahasa.
1. Analisis Tata Bahasa Mendalam (Grammatical Analysis)
Ini adalah tulang punggung eksegesis.
- Sintaksis Yunani: Mahasiswa belajar bagaimana menganalisis ketergantungan antarfrasa, klausa, dan partisip. Mengidentifikasi hubungan kausal, tujuan, atau kontras yang diungkapkan oleh partikel dan preposisi Yunani (e.g., dia, eis, hina, gar) adalah langkah penting dalam membangun struktur khotbah yang benar.
- Struktur Kata Kerja Ibrani: Meskipun tata bahasanya berbeda, Ibrani juga menuntut perhatian pada bentuk kata kerja, khususnya Waw Consecutive yang sering digunakan untuk menunjukkan urutan peristiwa dalam narasi.
2. Pemanfaatan Alat Eksegetikal
Penguasaan bahasa adalah prasyarat untuk menggunakan alat bantu teologis profesional yang paling kuat.
- Leksikon dan Konkordansi: Seorang mahasiswa teologi harus mampu menggunakan Leksikon Ibrani (seperti BDB/HALOT) dan Yunani (seperti BDAG) untuk menentukan keseluruhan rentang makna sebuah kata. Mereka menggunakan Konkordansi untuk melacak bagaimana kata yang sama digunakan di tempat lain dalam Kitab Suci, yang sangat penting untuk prinsip Scriptura Sacra sui interpres (Kitab Suci menafsirkan dirinya sendiri).
- Komentar Teknis: Hanya dengan penguasaan bahasa, mahasiswa dapat sepenuhnya memahami dan mengevaluasi argumen-argumen yang disajikan dalam komentar-komentar eksegetikal tingkat lanjut, yang berfokus pada detail-detail tata bahasa dan leksikal teks asli.
3. Mengembangkan Keputusan Hermeneutika yang Matang
Pada akhirnya, eksegesis adalah tentang membuat keputusan.
- Menghindari Strong’s Concordance Trap: Ketergantungan pada alat bantu yang hanya memberikan nomor dan terjemahan dasar (Strong’s Number) tanpa pemahaman sintaksis sering menyesatkan. STT Istto Hikmat Wahyu memastikan lulusannya mampu menimbang semua bukti kontekstual dan tata bahasa untuk menentukan makna terbaik dari sebuah kata dalam perikop tertentu.
Baca Juga: Menemukan Landasan Biblika untuk Gerakan Green Faith in Action
