Aksi Mapalus: Mahasiswa STT Istto Hikmat Wahyu Bantu Petani Sulut

Aksi Mapalus: Mahasiswa STT Istto Hikmat Wahyu Bantu Petani Sulut

Sulawesi Utara selalu memiliki cara unik dalam mempertahankan harmoni sosial dan ketahanan ekonominya melalui nilai-nilai leluhur yang tak lekang oleh waktu. Salah satu pilar budaya yang paling kokoh adalah semangat gotong royong yang dikenal dengan istilah Aksi Mapalus. Di tengah arus modernisasi dan tantangan sektor agraris yang semakin kompleks, semangat ini kembali dikobarkan oleh kelompok akademisi muda. Delegasi dari STT Istto Hikmat Wahyu secara aktif terjun langsung ke ladang-ladang milik masyarakat untuk menghidupkan kembali esensi bantuan kolektif tersebut. Aksi ini bukan sekadar bentuk pengabdian masyarakat biasa, melainkan sebuah gerakan integrasi antara spiritualitas, edukasi, dan aksi nyata dalam menjawab krisis tenaga kerja di sektor pertanian.

Keterlibatan mahasiswa sekolah tinggi teologi dalam ranah pertanian mungkin terdengar tidak lazim bagi sebagian orang. Namun, bagi para sivitas akademika di kampus ini, melayani sesama manusia tidak hanya dilakukan di balik mimbar atau ruang kelas, melainkan juga di atas tanah garapan yang menjadi tumpuan hidup banyak orang. Para Mahasiswa ini menyadari bahwa panggilan kemanusiaan harus diwujudkan dalam bentuk dukungan yang menyentuh kebutuhan paling mendasar, yakni ketahanan pangan dan kesejahteraan para pahlawan pangan di bumi Nyiur Melambai.

Revitalisasi Budaya Mapalus di Era Digital

Secara historis, kearifan lokal ini merupakan sistem kerja sama tradisional masyarakat Minahasa yang meliputi berbagai aspek kehidupan, mulai dari kedukaan, pernikahan, hingga bercocok tanam. Namun, seiring masuknya sistem ekonomi upah dan mekanisasi, tradisi ini sempat mengalami pengikisan. Tim dari STT Istto Hikmat Wahyu melihat celah ini sebagai peluang untuk melakukan rekayasa sosial. Mereka membawa semangat lama tersebut dan mengemasnya dengan manajemen yang lebih terorganisir, sehingga bantuan yang diberikan kepada petani menjadi lebih efektif dan terukur.

Aksi ini dimulai dengan pemetaan masalah yang dihadapi oleh para Petani lokal di Sulawesi Utara, mulai dari tingginya biaya produksi hingga kelangkaan buruh tani saat musim tanam dan panen tiba. Dengan mengerahkan tenaga mahasiswa yang terorganisir, beban biaya tenaga kerja yang seharusnya dikeluarkan oleh petani dapat ditekan secara signifikan. Inilah esensi sejati dari gotong royong masa kini: memberikan solusi tenaga kerja yang berbasis pada solidaritas tanpa motif keuntungan finansial semata.

Sinergi Antara Teologi dan Implementasi Agraria

Langkah berani yang diambil oleh institusi pendidikan ini didasarkan pada filosofi bahwa iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Pendidikan teologi yang mereka tempuh memberikan fondasi moral untuk mencintai bumi dan sesama. Saat para mahasiswa turun ke sawah atau ladang cengkih, mereka sebenarnya sedang mempraktikkan “Teologi Tanah”. Mereka belajar memahami jerih payah para petani, merasakan panasnya matahari, dan menyadari betapa pentingnya menjaga ekosistem alam demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.

Bagi para Mahasiswa, pengalaman ini menjadi laboratorium kehidupan yang sangat berharga. Mereka tidak hanya belajar cara menanam padi atau merawat tanaman hortikultura, tetapi juga belajar mendengarkan keluh kesah masyarakat akar rumput. Interaksi antara calon pemuka agama dan petani ini menciptakan jalinan emosional yang kuat, yang pada gilirannya akan membentuk karakter kepemimpinan mereka di masa depan yang lebih empatik dan responsif terhadap isu-isu keadilan sosial serta ekonomi.

Dampak Nyata bagi Produktivitas Petani Sulut

Secara teknis, bantuan yang diberikan oleh kelompok mahasiswa ini sangat variatif. Di beberapa wilayah di Sulawesi Utara, mereka membantu dalam proses pembukaan lahan tanpa bakar (zero burning) yang lebih ramah lingkungan. Di wilayah lain, fokus diarahkan pada penanganan pascapanen agar kualitas komoditas seperti kakao dan kelapa tetap terjaga di tingkat harga yang kompetitif. Kehadiran puluhan tenaga muda yang energik ini membuat pekerjaan yang biasanya memakan waktu satu minggu dapat diselesaikan hanya dalam dua hingga tiga hari.

Peningkatan efisiensi waktu ini berdampak langsung pada kesejahteraan Petani. Dengan waktu kerja yang lebih singkat dan biaya tenaga kerja yang nihil, margin keuntungan yang didapatkan petani menjadi lebih besar. Selain itu, mahasiswa juga membantu dalam hal literasi digital sederhana, seperti membantu petani mengakses informasi harga pasar terkini atau mendaftarkan kelompok tani ke aplikasi-aplikasi pendukung pertanian yang disediakan oleh pemerintah. Ini adalah bentuk modernisasi Aksi Mapalus yang memadukan otot dan otak.

Tantangan Sektor Pertanian di Sulawesi Utara

Sulawesi Utara memiliki potensi agraris yang luar biasa, mulai dari perkebunan kelapa yang melimpah hingga tanah pegunungan yang subur untuk sayur-mayur. Namun, tantangan seperti perubahan iklim yang tidak menentu dan serangan hama seringkali membuat petani merasa berjuang sendirian. Aksi dari STT Istto Hikmat Wahyu memberikan dukungan moral bahwa mereka tidak ditinggalkan oleh kaum intelektual.

Banyak pemuda di desa yang lebih memilih merantau ke kota daripada mengolah lahan peninggalan orang tua mereka. Fenomena “petani tua” adalah ancaman serius bagi ketahanan pangan daerah. Kehadiran para mahasiswa di ladang secara tidak langsung memberikan pesan kuat kepada pemuda desa lainnya bahwa bertani adalah pekerjaan yang mulia dan bisa dikerjakan secara kolektif dengan cara yang menyenangkan. Aksi ini menjadi kampanye terselubung untuk menarik minat generasi Z agar kembali mencintai dunia pertanian.

Implementasi Manajemen Kelompok Tani yang Efektif

Salah satu hasil kajian dari aksi ini adalah perlunya penguatan kelembagaan di tingkat desa. Mahasiswa tidak hanya datang untuk mencangkul, tetapi juga membantu merapikan administrasi kelompok tani. Mereka mengedukasi tentang pentingnya transparansi dan distribusi beban kerja yang adil dalam sistem Mapalus modern. Hal ini krusial agar kerja sama antarpetani tidak hanya bersifat insidental, tetapi bisa menjadi sistem yang berkelanjutan (sustainable).

Dukungan dari pihak kampus dalam menyediakan transportasi dan akomodasi bagi mahasiswa menunjukkan komitmen institusional yang tinggi. Hal ini membuktikan bahwa STT Istto Hikmat Wahyu sangat serius dalam menjalankan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam poin pengabdian masyarakat. Sinergi ini diharapkan dapat memicu kampus-kampus lain di Sulawesi Utara untuk melakukan hal serupa, sehingga tercipta gerakan masif mahasiswa membantu sektor-sektor produktif di daerah.

Mapalus sebagai Benteng Ketahanan Ekonomi Daerah

Dalam skala yang lebih luas, jika semangat ini diterapkan di seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Utara, maka ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah dapat dikurangi. Kemandirian pangan dimulai dari tingkat komunitas yang saling menopang. Budaya Mapalus adalah modal sosial (social capital) yang jauh lebih berharga daripada bantuan modal finansial yang seringkali justru menciptakan ketergantungan.

Gerakan para Mahasiswa ini juga menjadi pengingat bagi pengambil kebijakan bahwa solusi atas permasalahan pertanian tidak selalu harus berupa pengadaan alat mesin pertanian (alsintan) yang mahal, tetapi bisa berupa penguatan sumber daya manusia dan revitalisasi budaya kerja sama. Manusia adalah motor penggerak utama, dan ketika manusia-manusia unggul seperti mahasiswa berkolaborasi dengan kearifan lokal petani, maka hasil yang dicapai akan berlipat ganda.

Penutup: Merajut Masa Depan Bumi Nyiur Melambai

Aksi nyata yang dilakukan oleh civitas akademika STT Istto Hikmat Wahyu telah memberikan warna baru dalam diskursus pengabdian masyarakat di Sulawesi Utara. Mereka telah membuktikan bahwa ruang suci tidak hanya berada di dalam gereja atau kelas, tetapi juga di ladang-ladang di mana keringat para petani jatuh demi memberi makan bangsa. Semangat Mapalus yang mereka bawa adalah cahaya bagi masa depan pertanian yang lebih berkeadilan dan bermartabat.

Kita semua berharap agar langkah ini terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi seluruh elemen masyarakat. Ketika pendidikan, iman, dan kearifan lokal bersatu dalam sebuah aksi nyata, maka tidak ada tantangan yang terlalu besar untuk dihadapi. Mari kita dukung terus para Petani kita, dan biarkan semangat gotong royong ini terus hidup, tumbuh, dan berbuah manis di tanah Sulawesi Utara yang kita cintai.

Baca Juga: Tren Riset Teologi 2026: Fokus STT Istto Hikmat Wahyu Pasca Kerjasama PGLII

admin
https://sttisttohwsulut.ac.id