Meja Makan Oikumene: Diplomasi Kuliner Mahasiswa Istto untuk Kerukunan

Meja Makan Oikumene: Diplomasi Kuliner Mahasiswa Istto untuk Kerukunan

Di tengah dinamika keberagaman yang menjadi identitas bangsa Indonesia, upaya menjaga harmoni antarumat beragama terus bertransformasi ke bentuk-bentuk yang lebih cair dan menyentuh sisi kemanusiaan yang paling mendasar. Salah satu inisiatif menarik muncul dari lingkungan akademis teologi, di mana Meja Makan bukan lagi sekadar tempat untuk memenuhi kebutuhan fisik, melainkan telah beralih fungsi menjadi mimbar dialog yang inklusif. Melalui konsep “Meja Makan Oikumene”, mahasiswa dari Sekolah Tinggi Teologi (STT) Istto Hikmat Wahyu mencoba merumuskan kembali cara-cara berinteraksi dalam perbedaan. Mereka memanfaatkan medium makanan sebagai instrumen komunikasi yang melampaui batas-batas doktriner, menciptakan ruang di mana setiap orang merasa diterima dan dihargai.

Konsep oikumene dalam tradisi Kristiani sering kali dipahami sebagai upaya penyatuan atau kerja sama antarberbagai denominasi gereja. Namun, di tangan mahasiswa Istto Hikmat Wahyu, makna ini diperluas menjadi sebuah gerakan sosial yang lebih terbuka. Diplomasi kuliner yang mereka usung merupakan sebuah tawaran segar untuk mengatasi kebuntuan dialog formal yang sering kali terasa kaku. Dengan duduk bersama di satu meja, berbagi hidangan yang sama, dan saling mendengarkan cerita hidup, prasangka-prasangka yang selama ini terbangun perlahan mulai mencair. Ini adalah sebuah praktik nyata dari teologi yang tidak hanya berdiam di dalam ruang kelas, tetapi juga hadir dan memberi dampak bagi Kerukunan masyarakat di sekitarnya.

Kuliner sebagai Bahasa Universal Diplomasi

Mengapa kuliner menjadi pilihan utama dalam diplomasi ini? Jawabannya terletak pada sifat makanan yang universal. Tidak ada manusia yang tidak membutuhkan makan, dan di setiap budaya, momen makan bersama selalu dianggap sebagai tanda persahabatan dan kepercayaan. Mahasiswa teologi di sekolah tinggi ini memahami bahwa sebelum mendiskusikan konsep-konsep abstrak tentang keyakinan, manusia perlu merasa aman secara emosional. Diplomasi Kuliner menjadi pintu masuk yang ramah, di mana bumbu dapur dan cita rasa makanan menjadi topik pembuka yang menetralisir kecurigaan. Melalui rasa, orang diajak untuk merayakan keberagaman hayati dan budaya yang ada di nusantara.

Dalam setiap pertemuan yang diadakan, pemilihan menu pun tidak sembarangan. Ada filosofi di balik setiap hidangan yang disajikan. Misalnya, menyajikan masakan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia melambangkan betapa kayanya identitas kita sebagai satu bangsa. Mahasiswa tidak hanya memasak, tetapi juga mempelajari latar belakang sejarah dari setiap masakan tersebut. Hal ini memberikan pelajaran berharga bahwa di balik setiap rasa, ada sejarah panjang interaksi antarbudaya yang telah membentuk bangsa ini. Dengan demikian, meja makan menjadi ruang belajar sejarah yang hidup dan dinamis bagi seluruh peserta yang hadir.

Peran Mahasiswa STT Istto Hikmat Wahyu dalam Masyarakat

Sebagai calon pemimpin spiritual dan aktivis sosial, mahasiswa di Sekolah Tinggi Teologi ini didorong untuk memiliki kepekaan terhadap isu-isu sosial di lingkungannya. Program meja makan ini merupakan bagian dari kurikulum praktis yang melatih karakter kepemimpinan yang melayani. Mereka belajar bahwa menjadi seorang teolog berarti menjadi jembatan bagi perbedaan. Di lingkungan Istto Hikmat Wahyu, mahasiswa dibekali dengan pemahaman bahwa kebenaran iman tidak harus menutup mata terhadap kemanusiaan orang lain. Sebaliknya, iman yang kuat seharusnya membuahkan kasih yang nyata melalui tindakan-tindakan sederhana namun bermakna.

Kegiatan ini biasanya melibatkan tokoh masyarakat, pemuda dari berbagai latar belakang keyakinan, serta warga sekitar kampus. Mahasiswa bertindak sebagai tuan rumah yang ramah, memastikan bahwa setiap aspek dalam jamuan tersebut menghormati sensitivitas budaya dan keyakinan tamu yang hadir. Misalnya, memastikan kehalalan makanan bagi rekan-rekan Muslim atau menyediakan pilihan vegetarian. Perhatian terhadap detail-detail kecil seperti ini adalah esensi dari toleransi yang sesungguhnya—bukan sekadar retorika, melainkan penghormatan yang tulus terhadap kebutuhan dan prinsip orang lain.

Meja Makan sebagai Ruang Dekonstruksi Prasangka

Sering kali, konflik atau ketegangan antar kelompok terjadi karena kurangnya komunikasi dan banyaknya stereotip yang beredar di media sosial. Di “Meja Makan Oikumene”, setiap individu diberikan kesempatan untuk berbicara sebagai manusia biasa, bukan hanya sebagai representasi dari kelompok tertentu. Mahasiswa memfasilitasi diskusi-diskusi ringan namun mendalam mengenai nilai-nilai kehidupan, gotong royong, dan harapan masa depan. Dalam suasana yang santai, orang lebih mudah untuk membuka diri dan menceritakan kegelisahan mereka.

Proses dekonstruksi prasangka ini sangat penting dalam membangun Kerukunan yang berkelanjutan. Ketika seseorang telah makan bersama dan tertawa bersama, akan lebih sulit bagi mereka untuk membenci atau menyebarkan kebencian terhadap satu sama lain. Pengalaman personal di meja makan tersebut akan menjadi benteng pertahanan terhadap provokasi yang mungkin muncul di luar. Inilah kekuatan dari diplomasi “arus bawah” yang dijalankan oleh para mahasiswa. Mereka tidak menunggu kebijakan dari atas untuk bertindak, melainkan memulai perubahan dari lingkaran terkecil di sekitar mereka.

Integrasi Teologi dan Etika Jamuan

Secara akademis, inisiatif ini juga didukung oleh pendalaman teologi jamuan. Dalam banyak narasi suci, momen makan bersama sering kali menjadi titik balik perubahan perilaku atau penerimaan terhadap mereka yang terpinggirkan. Mahasiswa STT Istto Hikmat Wahyu menggali kembali makna-makna spiritual dari berbagi roti dan air, serta bagaimana praktik tersebut dapat diadaptasi dalam konteks keberagaman Indonesia saat ini. Jamuan bukan hanya soal konsumsi, tetapi soal persekutuan (koinonia) yang melampaui dinding gedung tempat ibadah.

Etika jamuan yang diajarkan mencakup kerendahhatian untuk mendengar lebih banyak daripada berbicara. Mahasiswa diajarkan untuk tidak memaksakan pandangan mereka, tetapi menciptakan suasana di mana dialog dapat mengalir secara alami. Keberhasilan diplomasi ini diukur bukan dari seberapa banyak orang yang setuju dengan doktrin mereka, melainkan dari seberapa kuat ikatan persaudaraan yang terbentuk setelah jamuan selesai. Inovasi dalam metode pelayanan ini membuktikan bahwa pendidikan teologi di era modern harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman yang mendambakan perdamaian.

Dampak Sosial dan Keberlanjutan Inisiatif

Dampak dari gerakan meja makan ini mulai terasa di lingkungan sekitar kampus. Hubungan antara pihak sekolah tinggi dengan warga masyarakat menjadi lebih erat. Sering kali, dari meja makan ini lahir ide-ide kolaborasi lainnya, seperti kerja bakti bersama, bantuan sosial saat terjadi musibah, hingga diskusi pemuda lintas iman secara berkala. Hal ini menunjukkan bahwa kuliner hanyalah sebuah pemicu bagi perubahan sosial yang lebih besar. Ketika hambatan komunikasi telah runtuh, potensi kerja sama di bidang lain menjadi tak terbatas.

Keberlanjutan inisiatif ini sangat bergantung pada regenerasi semangat di kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, pengalaman mengelola meja makan oikumene ini dijadikan bagian dari refleksi teologis yang dilaporkan dalam tugas-tugas akademik. Dengan demikian, ada integrasi yang kuat antara teori di dalam kelas dan praktik di lapangan. Sekolah Tinggi Teologi Istto Hikmat Wahyu berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan ini sebagai bagian dari identitas mereka sebagai institusi pendidikan yang inklusif dan progresif.

Baca Juga: Membangun Pemahaman Iman yang Membumi lewat Kuliah Umum Teologi

admin
https://sttisttohwsulut.ac.id