Belajar dari Sumber Asli: Mengapa Mahasiswa Teologi Wajib Menguasai Bahasa Ibrani dan Yunani Kuno

Belajar dari Sumber Asli: Mengapa Mahasiswa Teologi Wajib Menguasai Bahasa Ibrani dan Yunani Kuno

Di jantung pendidikan teologi yang berintegritas, terdapat satu prinsip utama: Ad Fontes, kembali kepada sumber aslinya. Bagi Sekolah Tinggi Teologi (STT) Istto Hikmat Wahyu, prinsip ini bukan hanya slogan akademis, melainkan fondasi kurikulum. Mahasiswa di institusi ini diwajibkan untuk menguasai Bahasa Ibrani Alkitabiah dan Bahasa Yunani Koine—dua bahasa kuno yang menjadi wadah orisinal bagi pewahyuan Kitab Suci.

Kewajiban ini mencerminkan komitmen STT Istto Hikmat Wahyu untuk menghasilkan teolog, pendeta, dan pemimpin gereja yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki kedalaman hermeneutika dan eksegesis yang tak tertandingi. Penguasaan bahasa biblika berfungsi sebagai kunci yang membuka gerbang pemahaman otentik, melampaui keterbatasan yang melekat pada setiap bentuk terjemahan. Berikut adalah uraian mendalam mengapa tuntutan ini sangat krusial bagi perjalanan akademis dan spiritual seorang mahasiswa teologi.


I. Memahami Inti Firman Tuhan: Melampaui Batasan Terjemahan

Salah satu alasan paling mendasar dari penekanan pada bahasa asli adalah pengakuan bahwa terjemahan, seakurat apapun, selalu merupakan interpretasi. Setiap bahasa memiliki kosakata, nuansa, dan konteks budaya yang tidak dapat dipindahkan secara sempurna ke bahasa lain.

1. Menggali Kekayaan Makna Kata (Semantic Range)

Bahasa Ibrani dan Yunani seringkali memiliki satu kata yang mengandung spektrum makna jauh lebih luas daripada padanannya dalam bahasa modern.

2. Memahami Implikasi Waktu dan Tindakan (Tense dan Aspect)

Terutama dalam Bahasa Yunani Koine, bentuk kata kerja (verb) sangatlah informatif. Bentuk (aspect) sebuah kata kerja menunjukkan jenis tindakan—apakah tindakan itu tunggal dan instan (aorist), berulang dan berkelanjutan (present), atau telah selesai dengan hasil yang berkelanjutan (perfect).

3. Kritik Teks sebagai Tanggung Jawab Akademis

Mahasiswa STT Istto Hikmat Wahyu diajarkan dasar-dasar kritik teks. Meskipun Alkitab terjemahan didasarkan pada edisi kritis terbaik, seorang teolog harus memahami mengapa edisi tersebut memilih satu bacaan di atas yang lain. Mereka belajar membandingkan varian tekstual dalam manuskrip Yunani (codex seperti Sinaiticus, Vaticanus) dan Ibrani (gulungan Laut Mati). Kemampuan ini memastikan bahwa pelayanan mereka didasarkan pada teks yang paling mendekati orisinal.


II. Mendalami Konteks Budaya dan Sejarah: Bahasa sebagai Jendela Pemikiran

Bahasa tidak pernah terlepas dari budaya dan sejarah di mana ia lahir. Bahasa Ibrani dan Yunani adalah kunci untuk membuka pikiran penulis Alkitab dan audiens pertama mereka.

1. Mengapresiasi Kerangka Berpikir Ibrani

Struktur dan kosakata Bahasa Ibrani mencerminkan cara pandang dunia orang Semit, yang berbeda dengan pemikiran Barat modern.

2. Memahami Latar Belakang Helenistik

Perjanjian Baru ditulis dalam Bahasa Yunani Koine, bahasa yang dipengaruhi kuat oleh pemikiran Helenistik pasca-Aleksander Agung.

3. Mengidentifikasi Nuansa Sastra dan Retorika

Penguasaan bahasa memungkinkan mahasiswa mengidentifikasi pola-pola sastra kuno.


III. Menjadi Penafsir yang Bertanggung Jawab: Fondasi Eksegesis Ilmiah

Di STT Istto Hikmat Wahyu, tujuannya adalah melahirkan ekseget (orang yang menarik makna keluar dari teks), bukan eiseget (orang yang memasukkan ide sendiri ke dalam teks). Kemampuan ini bergantung sepenuhnya pada bahasa.

1. Analisis Tata Bahasa Mendalam (Grammatical Analysis)

Ini adalah tulang punggung eksegesis.

2. Pemanfaatan Alat Eksegetikal

Penguasaan bahasa adalah prasyarat untuk menggunakan alat bantu teologis profesional yang paling kuat.

3. Mengembangkan Keputusan Hermeneutika yang Matang

Pada akhirnya, eksegesis adalah tentang membuat keputusan.

Baca Juga: Menemukan Landasan Biblika untuk Gerakan Green Faith in Action

admin
https://sttisttohwsulut.ac.id