“Tujuan Hidupku Apa Sih?”: Mengubah Pertanyaan Fandom Menjadi Fondasi Studi Teologi

“Tujuan Hidupku Apa Sih?”: Mengubah Pertanyaan Fandom Menjadi Fondasi Studi Teologi

Pertanyaan “Tujuan hidupku apa sih?” adalah salah satu pertanyaan paling universal dan mendasar yang pernah diajukan oleh manusia. Seringkali, pertanyaan ini muncul di tengah krisis eksistensial, persimpangan jalan karier, atau momen refleksi mendalam tentang makna keberadaan. Bagi sebagian orang, pertanyaan ini mungkin terasa klise atau terlalu filosofis. Namun, bagi Sekolah Tinggi Teologi (STT) Istto Hikmat Wahyu, pertanyaan sederhana dan jujur ini adalah titik awal yang krusial dalam membentuk kurikulum dan visi studi teologi.

Artikel ini akan membahas bagaimana pertanyaan fana tentang tujuan hidup dapat diangkat menjadi subjek akademik yang serius dan transformatif, serta bagaimana pendekatan ini diterapkan dalam lingkungan edukatif di STT Istto Hikmat Wahyu.

Dari Kebingungan Individu Menuju Kebenaran Universal

Banyak mahasiswa teologi datang dengan berbagai latar belakang, namun mayoritas dari mereka membawa beban yang sama: pencarian akan makna yang lebih besar. Pertanyaan tentang tujuan hidup seringkali diturunkan menjadi aspek psikologis atau sekadar motivasi pribadi. Namun, teologi memiliki kapasitas untuk mengangkat pertanyaan ini ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu ke ranah kebenaran universal yang bersumber dari wahyu ilahi.

Di STT Istto Hikmat Wahyu, kami percaya bahwa setiap pertanyaan tulus tentang eksistensi harus direspons dengan kajian teologis yang mendalam dan relevan. Tujuan hidup, dalam kerangka pandang teologis, bukanlah sekadar self-discovery, tetapi sebuah panggilan untuk God-discovery dan pemenuhan mandat ilahi. Studi teologi, dengan demikian, berfungsi sebagai peta jalan untuk memahami bagaimana eksistensi individu terkait erat dengan tujuan penciptaan Allah.

Teologi sebagai Jawaban atas Kehampaan Eksistensial

Teologi sering kali dianggap sebagai disiplin akademis yang kering, berfokus pada doktrin-doktrin kuno atau perdebatan historis. Pendekatan ini, meskipun penting, dapat gagal menyentuh inti dari pertanyaan eksistensial yang dihadapi orang-orang modern. STT Istto Hikmat Wahyu berupaya menjembatani jurang ini.

Kami mengajarkan bahwa teologi bukan hanya tentang mengetahui Allah, tetapi tentang menemukan tujuan hidup sejati di dalam relasi dengan-Nya. Tiga bidang utama dalam studi teologi yang secara langsung merespons pertanyaan tujuan hidup adalah:

Studi Teologi Sistematika menjadi alat utama di STT Istto Hikmat Wahyu untuk mengorganisasi dan menyajikan kebenaran-kebenaran ini secara komprehensif. Melalui disiplin ini, pertanyaan “Tujuan hidupku apa?” tidak lagi dijawab dengan subjektivitas, melainkan dengan koherensi dan otoritas yang bersumber dari Alkitab.

Alkitab sebagai Naskah Utama Tujuan Hidup

Inti dari semua kajian teologi di STT Istto Hikmat Wahyu adalah Alkitab. Kami memahami Alkitab bukan hanya sebagai kumpulan teks historis atau etika, tetapi sebagai narasi tunggal mengenai tujuan Allah bagi dunia dan umat manusia. Ini adalah naskah utama yang menjelaskan dari mana kita berasal, mengapa kita ada, dan ke mana kita menuju.

Pertanyaan “Tujuan hidupku apa?” akan dijawab melalui:

Untuk memahami konteks dan sejarah bagaimana teks-teks ini disatukan dan diakui sebagai otoritas, sangat penting untuk mempelajari Kanon Alkitab. Pemahaman tentang proses ini memperkuat kepercayaan bahwa kita tidak mencari tujuan hidup dalam dongeng, melainkan dalam firman yang secara historis teruji dan diakui.

Mengubah Fana Menjadi Filsafat Pelayanan

Lulusan STT Istto Hikmat Wahyu didorong untuk tidak sekadar “tahu” tujuan hidup mereka, tetapi untuk menghidupi tujuan tersebut melalui pelayanan yang terintegrasi dan transformatif. Studi teologi harus menghasilkan sebuah Filsafat Pelayanan yang kuat.

Filsafat Pelayanan adalah kerangka kerja pribadi yang menjelaskan mengapa seseorang melayani, apa yang mereka layani, dan bagaimana mereka melakukannya, semuanya berdasarkan prinsip teologis yang kokoh. Ini adalah jawaban praktis atas pertanyaan “Tujuan hidupku apa?” yang melampaui pekerjaan sehari-hari dan masuk ke dalam panggilan hidup.

STT Istto Hikmat Wahyu menerapkan kurikulum yang mendorong mahasiswa untuk:

Pendekatan ini menjamin bahwa mahasiswa tidak hanya meninggalkan kampus dengan gelar, tetapi dengan pemahaman yang mendalam tentang tujuan mereka, yang berakar pada Teologi Penginjilan dan visi Allah untuk pemulihan dunia.

Kesimpulan: Sebuah Jawaban yang Bergerak

Pertanyaan “Tujuan hidupku apa sih?” adalah sebuah undangan. Di Sekolah Tinggi Teologi Istto Hikmat Wahyu, undangan ini diterima sebagai fondasi untuk studi yang serius dan mendalam. Kami mengubah kebingungan eksistensial menjadi fondasi teologis yang kokoh, di mana tujuan hidup bukan lagi misteri yang harus dipecahkan, tetapi sebuah Panggilan Ilahi yang harus direspons.

Dengan mengkaji Teologi Biblika dan sistematika, dan kemudian menerapkannya melalui Filsafat Pelayanan yang kuat, setiap mahasiswa dipersiapkan untuk meninggalkan jejak yang bermakna, menjawab pertanyaan tujuan hidup mereka bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kehidupan yang didedikasikan untuk kemuliaan Allah dan pelayanan sesama. Studi teologi di STT Istto Hikmat Wahyu adalah perjalanan untuk menemukan bahwa tujuan hidup sejati adalah menjadi bagian dari tujuan Allah yang kekal.

Baca Juga: Menjadi Content Creator Rohani: Mendorong Mahasiswa Teologi Memproduksi Podcast, Jurnal Daring, dan Video Renungan Kreatif

admin
https://sttisttohwsulut.ac.id